Komunikasi Efektif Dengan Anak

happy family

happy family

 Apakah komunikasi itu?

komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan sesuatu (pesan) dari satu pihak ke pihak lain melalui suatu media sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Terhadap anak-anak kemampuan berkomunikasi yang baik sangat penting. Seseorang melakukan komunikasi dengan anak, terutama dalam konteks mendidik, tidak hanya menyampaikan informasi. tetapi juga berperan dalam memotivasi, memodifikasi sikap, memacu kreatifitas, dan merangsang pemikiran. Sebaliknya komunikasi yang kurang baik akan menimbulkan salah paham, munculnya kesan kurang baik, pesan akan sulit dipahami, juga proses belajar bisa menjadi terhambat.

Bagaimana Agar Komunikasi dengan Anak Efektif?

Menurut psikolog Seto Mulyadi yang akrab disapa Kak Seto, Komunikasi, sesungguhnya tidak hanya terbatas dalam bentuk kata-kata. Komunikasi, adalah ekspresi dari sebuah kesatuan yang sangat kompleks. Bahasa tubuh, senyuman, peluk kasih, ciuman sayang, dan kata-kata.

Masih menurut Kak Seto, dalam penelitian orang dewasa khususnya orangtua biasanya berbicara tujuh kali dan mendengar satu kali. “Ini harus dibalik menjadi berbicara satu kali dan mendengar tujuh kali. Karena pada dasarnya anak itu selalu ingin didengarkan,”

Lalu bagaimana caranya agar kita dapat memiliki kemampuan berkomunikasi yang efektif dengan anak? Untuk memiliki kemampuan berkomunikasi yang efektif dengan anak, ada beberapa hal yang harus kita persiapkan terhadap diri kita sendiri :

  • berusaha untuk bersabar.
  • hindari diri untuk prejudice dan labelling pada diri anak
  • persiapkan diri untuk menerima kemungkinan yang tak terduga (misal : pertanyaan anak yang di luar dugaan)

Setelah kita mempersiapkan diri, coba tips-tips berkomunikasi efektif berikut ini :

Jadilah Pendengar yang Baik Bagi Anak

Komunikasi adalah proses memahami dan berbagi informasi di mana mendengarkan memainkan peranan penting. Komunikasi, sesungguhnya tidak hanya terbatas dalam bentuk kata-kata. Komunikasi, adalah ekspresi dari sebuah kesatuan yang sangat kompleks: bahasa tubuh, senyuman, peluk kasih, ciuman sayang, dan kata-kata. Dengan demikian, dalam berkomunikasi terutama dengan anak, dibutuhkan totalitas perhatian dan keinginan mendengarkan, hingga sang pendengar dapat memahami sepenuhnya emosi dan pikiran orang yang sedang berbicara.

Ada lima tahap dari proses mendengarkan, yaitu :

  1. Fokuskan Perhatian
    pada AnakBerikan perhatian.
  2. Secara fisik, dengarkan pesan dengan baik.
  3. Ikatlah makna ketika memahaminya.
  4. Evaluasilah terhadap pengalaman sebelumnya.
  5. Kemudian Ingatlah.

Pada saat anak mencoba mengatakan sesuatu, berilah perhatian sepenuhnya pada ceritanya. Untuk itu, alangkah baiknya jika kita mengalihkan perhatian sejenak dari kesibukan kita, kemudian tataplah langsung di matanya sambil memberi kesan bahwa kita benar-benar siap memperhatikan ceritanya, dan mendorongnya untuk bercerita.

Mengulangi Cerita Anak untuk Menyamakan Pengertian

Tahanlah diri untuk tidak menginterupsi ceritanya sampai anak selesai bercerita. Ketika anak selesai bercerita, cobalah memberikan kesimpulan berdasarkan hasil tangkapan kita terhadap ceritanya. Pola ini, memberikanfeedback bagi kita dan anak, apakah kita benar-benar telah memahami apa yang diceritakan atau apa yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh anak.

Menggali Pendapat Anak Akan Masalah yang Anak Hadapi

Hindari penilaian subyektif atas diri anak, seperti dengan kata-kata  “ah, kamu pasti takut! Kamu kan penakut….” atau “ah, paling kamu menangis…kan kamu cengeng”. Penilaian tersebut malah akan membuat anak frustrasi karena mereka mengharap kita bisa mengerti perasaan mereka, bukan menilai sikap dan perasaan mereka. Selain itu, penilaian subyektif yang datang terlalu cepat, bisa membuat anak menarik diri untuk tidak lebih lanjut menceritakan perasaan yang sebenarnya. Akan tetapi, kita boleh bertanya pada anak : “bagaimana perasaan adek, waktu itu….”; cara ini jauh lebih baik dan anak akan menceritakan perasaan yang sebenarnya.

Jangan lupa Bertanya

Hindari sikap memaksakan pendapat, alangkah lebih baik jika kita sebagai orang dewasa membimbing anak dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka semakin memahami kejadian yang dialami, informasi yang diterima, teman yang dihadapi, dan perasaan yang mereka rasakan.

Semangati  Anak untuk Bercerita
Hanya dengan memberi respon “O ya? atau “Wow!…”  atau waaah Subhanallah..” dapat menjadi stimulasi bagi mereka untuk makin giat bercerita. Pola ini dapat membuat anak tenang dan nyaman karena merasa orang dewasa disekitarnya memahami apa yang mereka ungkapkan.

Motivasi Anak Mengambil Keputusan yang Tepat

Jika kita sebagai orang dewasa ingin membantu anak menghadapi masalahnya, sebaiknya kita tidak mengambil alih keputusan seperti mengatakan “ya sudah, besok kamu tidak usah mengikuti kegiatan itu” atau, “biar Kakak yang hadapi si Boby temanmu yang nakal, biar Kakak si Boby tahu apa yang adiknya lakukan!”. Sebaliknya, hadirkan beberapa alternatif yang membuat mereka berpikir dan memilih manakah solusi terbaik sambil membicarakan akibat-akibat yang bisa dirasakan baik oleh anak maupun oleh orang lain.

Jika Anak sedang Emosi, Tunggu reda emosi anak.

Jika anak sedang emosi, kita tidak akan berhasil membuatnya bercerita dan kita pun makin tidak sabar untuk tidak memberikan opini kita padanya.  Berikan waktu pada anak untuk menyendiri sampai intensitas perasaannya mereda. Ketika emosinya mereda, anak akan lebih siap untuk diajak bicara atau menerima informasi yang akan kita sampaikan.

Hindari Kalimat Negatif dan Berkesan Mendikte Anak

Sebabai contoh :

Kalimat yang harus dihindari

Ganti dengan kalimat

“kamu ngerti gak sih?!” “Kakak Mengerti kan?”
“Kamu harus menjadi anak pintar!” “Kamu adalah anak pintar”
“Jangan bicara begitu pada Ibu!” “Ibu percaya kamu bisa berbicara lebih baik daripada yang baru kamu katakan”
“Kamu jangan malas belajar nak!” “Kamu mampu belajar dengan rajin nak”
“Kamu kok lupa sih, dasar pelupa!” “Apa yang kamu ingat, nak?”
“Bunda Kecewa dengan hasil ulanganmu!” “Bunda tahu kamu kecewa dengan hasil ulanganmu DAN Bunda tahu kamu bisa memperbaikinya besok”

Perhatikan Bahasa Tubuh Saat Berkomunikasi dengan Anak

Jika berbicara secara personal dengan anak, maka  posisikan tubuh kita sejajar dengan anak (jika perlu berjongkoklah agar tinggi badan kita membuat anak nyaman). Saat kita berkomunikasi dengan anak, perhatikanlah bahasa tubuh yang kita gunakan. Ketika apa yang kita katakan bertentang dengan apa yang kita lakukan atau bertentangan dengan bahasa tubuh kita, maka kecenderungan salah faham dan kebingungan akan mudah terjadi.

Contoh ketidaksesuaian antara komunikasi nonverbal kita dan apa yang kita katakan adalah:

  • Seorang guru mengerutkan kening dan berkata kepada siswanya: “Bapak senang anak-anak berada di kelas ini”
  • Seorang guru cemberut dan berkata kepada siswanya : “Waaah, Kamu hebat!”

Berbicaralah dengan Bahasa yang Mudah Dipahami Anak.

Hindari istilah-istilah yang terlalu berat bagi anak, atau kata-kata yang terlalu kaku (baku). Namun harus digarisbawahi bahwa berbicara dengan bahasa anak tidak berarti jika anak mengalami kesalahan dalam pelafalan kata (misal: cadel) maka orang dewasa pun mengikuti cara berbicara anak. Sebaliknya, orang dewasa bertugas untuk memeri contoh pengucapan yang baik dan benar pada anak tersebut.

Gunakan Metode yang tepat dalam Memberikan Informasi Pada Anak.

Cara anak-anak belajar biasanya efektif melalui pendekatan VISUAL(gambar), AUDITORIAL(pendengaran), KINESTETIKAL (gerak). Dengan demikian, dalam memberikan materi atau informasi pada anak, sebaiknya melibatkan ketiga unsur tersebut. Metode dan media yang bisa digunakan untuk memfasilitasi unsur-unsur di atas diantaranya adalahbernyanyi, bercerita (story telling), bermain tepuk, gerak dan lagu, melakukan tanya-jawab (bercakap-cakap), melakukan eksperimen, dan lain-lain.

Selamat Berinteraksi Bersama Anak Dengan Semangat dan Menyenangkan ^_^

Source: http://kidzsmile.info/2012/01/komunikasi-efektif-dengan-anak/

Leave a comment

Filed under Kidz n Mom

Leave a Reply :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s